Di Taman Kota Taiwan, Rektor UMS Rappang Mendengar Cerita dan Merawat Harapan Mahasiswa By Widia Awalia  17 Okt 2026, 08:58:55 WIB

Di Taman Kota Taiwan, Rektor UMS Rappang Mendengar Cerita dan Merawat Harapan Mahasiswa

TAIWAN — Tidak semua percakapan penting berlangsung di ruang rapat yang megah. Sebagian justru menemukan maknanya dalam kesederhanaan.Di tengah taman kota, di bawah langit yang terbentang luas, ketika seorang pemimpin bersedia hadir, mendengar, dan memahami.

Suasana hangat itulah yang mewarnai pertemuan Rektor Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad, dengan mahasiswa yang sedang menjalani program magang di Taiwan. Untuk kedua kalinya, Rektor mengunjungi mahasiswa di negeri perantauan. Kunjungan ini tak hanya tanggung jawab institusional, tetapi juga perhatian dan kepedulian terhadap perjalanan mereka dalam menuntut ilmu dan menyiapkan masa depan.

Di sebuah taman kota Taiwan, pertemuan itu berlangsung sederhana, jauh dari kesan formal sebuah agenda akademik. Percakapan mengalir dalam suasana kekeluargaan, di antara cerita tentang pekerjaan, pengalaman beradaptasi dengan lingkungan baru, tantangan dunia kerja, hingga kerinduan yang sesekali menyelinap di tengah kesibukan.

Dalam suasana tersebut, Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad tidak hanya hadir sebagai seorang Rektor, tetapi juga sebagai sosok ayah yang membuka ruang bagi anak-anaknya untuk bercerita. Dengan penuh keterbukaan, mahasiswa mendapat kesempatan menyampaikan pengalaman, kegelisahan, tantangan, serta harapan mereka selama menjalani program magang di Taiwan.

Sebab, di balik kesempatan belajar di luar negeri, selalu ada cerita yang tidak seluruhnya terlihat. Ada keberanian meninggalkan keluarga, ada perjuangan menyesuaikan diri dengan budaya dan ritme kerja yang berbeda, ada tuntutan untuk terus belajar dan bertumbuh, serta ada rindu yang harus disimpan jauh dari rumah.

Bagi mahasiswa, kehadiran seorang pimpinan yang bersedia duduk bersama dan mendengarkan menjadi bentuk perhatian yang memiliki makna tersendiri. Tidak selalu nasihat panjang yang dibutuhkan, terkadang cukup ruang untuk menyampaikan isi hati, berbagi pengalaman, dan merasa bahwa perjuangan mereka tidak luput dari perhatian kampus.

Di balik suasana hangat tersebut, kunjungan kedua ini juga menjadi bagian dari pelaksanaan monitoring dan evaluasi program magang mahasiswa di Taiwan. Dialog langsung dengan mahasiswa menjadi kesempatan bagi universitas untuk memperoleh gambaran nyata mengenai pelaksanaan program, relevansi pengalaman kerja dengan kompetensi yang dipelajari, tantangan yang dihadapi, serta aspek-aspek yang perlu ditingkatkan.

Berbagai pengalaman dan masukan mahasiswa menjadi bahan refleksi untuk menyempurnakan program pada masa mendatang. Evaluasi tidak hanya diarahkan untuk melihat apa yang telah berjalan dengan baik, tetapi juga mengidentifikasi ruang perbaikan agar program magang semakin terencana, berkualitas, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kompetensi profesional mahasiswa.

Melalui pendekatan yang dialogis, suara mahasiswa memperoleh tempat penting dalam proses evaluasi. Pengalaman mereka di lapangan menjadi sumber pembelajaran bagi institusi untuk merancang program yang lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa dan perkembangan dunia kerja internasional.

Dengan demikian, monitoring dan evaluasi tidak sekadar menjadi agenda administratif, melainkan bagian dari komitmen universitas untuk terus belajar dari pengalaman, memperbaiki kekurangan, dan memastikan bahwa kesempatan magang benar-benar menjadi ruang pertumbuhan bagi mahasiswa.

Di taman kota itu, langit Taiwan seolah menjadi saksi perjumpaan yang sederhana, tetapi menyimpan arti mendalam. Tidak ada podium, tidak ada jarak yang dibangun oleh jabatan. Yang hadir adalah percakapan antarmanusia, antara seorang pemimpin dan mahasiswa yang sedang berjuang merintis masa depan di negeri orang.

Kunjungan ini menghadirkan pesan bahwa keberhasilan pendidikan internasional tidak hanya diukur dari kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman kerja di luar negeri. Lebih dari itu, keberhasilan juga terletak pada sejauh mana institusi mampu mendampingi, mendengarkan, dan menjadikan pengalaman mahasiswa sebagai dasar untuk membangun program yang lebih baik.

Bagi mahasiswa yang jauh dari keluarga, perhatian semacam ini dapat menjadi pengingat bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Ada kampus yang peduli terhadap proses mereka, ada harapan yang dipercayakan kepada mereka, dan ada keluarga besar universitas yang tetap menjadi tempat untuk berbagi cerita.

Pada akhirnya, magang bukan hanya perjalanan untuk mengasah keterampilan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan karier. Ia juga merupakan perjalanan untuk belajar mandiri, menghadapi tantangan, mengenal diri sendiri, dan memahami arti perjuangan.

Dan mungkin, di antara percakapan sederhana di bawah langit Taiwan itu, tersimpan pelajaran yang tidak tertulis dalam silabus mana pun: bahwa pendidikan bukan semata-mata tentang mengirim mahasiswa pergi untuk belajar, melainkan juga tentang memastikan mereka tetap merasa didampingi selama perjalanan.

Sebab, sejauh apa pun langkah anak-anak muda itu pergi mengejar mimpi, perhatian yang tulus akan selalu membuat mereka merasa memiliki rumah untuk pulang

Bagikan Berita Ini
WhatsApp Facebook
Link berita siap dibagikan dengan preview resmi dari website UMS Rappang.

Berita Terkait

Berita lain yang masih berhubungan dengan informasi ini.